Sun. Mar 24th, 2019

Tan Malaka dan Kehilangan

sumber: tribunnews.com

FikomNews.com – Manusia tidak berhenti kehilangan. Untuk mendapatkan apa yang hilang, manusia juga akan kehilangan. Tan Malaka, untuk mendapatkan apa yang hilang di tanahnya, yaitu kemerdekaan, ia juga harus kehilangan.

Tidak seperti generasi sebelumnya, sebelum terjadi politik etis di Hindia Belanda (Indonesia)–saat pendidikan masih tertutup untuk rakyat pribumi, kecuali segelintir dari kalangan istana. Tan Malaka justru bisa menikmati pendidikan hingga tinggi. Itu terjadi karena ia menjadi bagian dari generasi pertama pribumi–di luar kalangan istana yang bisa menikmati dampak politik etis.

Politik etis, bila kata “etis” itu dimaknakan dalam konteks politik Belanda saat itu, maka berarti politik balas budi Belanda terhadap tanah jajahannya, atas kebaikan tanah rakyat jajahan, atas kejahatan Belanda terhadap rakyat dan tanah jajahannya.

Politik etis yang ditegaskan Ratu Wilhelmina dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda pada tanggal 17 September 1901–saat ia naik takta adalah reaksi atas munculnya kaum etis di Belanda. Dipelopori oleh Pieter Brooshoft; wartawan Koran De Locomotief . Dan juga oleh politikus Belanda, C. Th. Van Deventer. Kemunculan kaum etis ini adalah reaksi atas terungkapnya fakta-fakta yang terjadi pada rakyat di tanah jajahan.

Pengungkapan situasi yang sebenarnya terjadi di Hindia Timur tersebut memuncak, ketika salah seorang mantan ambternar Belanda menggoreskan penanya–menulis sebuah novel. Eduard Douwes Dekker dia lah pegawai Belanda yang telah menulis sebuah novel yang berjudul Max Havellar; Pelelangan Kopi Maskapai Dagang Belanda. Lewat novel itulah Dekker menggambarkan apa yang sedang terjadi kepada rakyat yang tanahnya telah dijajah oleh Belanda, menggambarkannya dengan bahasa sastra.

Suatu negeri dan rakyat yang telah membuat negeri yang tergolong kecil, lemah, miskin di Eropa, menjadi makmur, kaya raya. Tapi apa yang terjadi pada rakyat dan negeri yang telah berjasa itu? Justru kemelaratan dan kematian. Penderitaan yang berganda. Mereka tidak hanya dieksploitasi oleh putra bangsa asing tapi juga oleh putra bangsa sendiri.

Dengan magnum opus-nya “Max Hevellar”, Dekker sangat berhasil menunjukkan kekuatan. Kelebihan karya sastra dibanding karya non sastra dalam menggerakkan kesadaran, khususnya terkait kenyataan-kenyataan yang ditimbulkan oleh praktik kolonialisme. Inilah yang di kemudian hari ditegaskan lagi oleh salah seorang pemujanya yang paling terkenal dari Indonesia.

Pramoedya Ananta Toer, pada tanggal 18 April 1999, di dalam surat kabar New York Times, menulis sebuah artikel dengan judul: “Best Story: The Book That Killed Colonialisme”. Cerita terbaik, buku yang dikatakannya telah membunuh kolonialisme itu adalah Max Havellar.

Pramoedya meyakini dan mengakui bahwa Eduard Douwes Dekker dengan karya novelnya tersebut adalah ibu dari kaum etis di Belanda. Itulah ilham yang telah menggerakkan kesadaran kaum etis di Belanda untuk menuntut diterapkannya politik balas budi terhadap rakyat dan tanah jajahan.

Ada tiga kebijakan yang menjadi rangkuman politik etis Belanda di tanah jajahan. Kebijakan tersebut dikenal dengan istilah Trias Van Deventer. pertama, Kebijakan Irigasi; kedua, Kebijakan Emigrasi; ketiga, Kebijakkan Edukasi.

Dari ketiga kebijakkan ini, mungkin yang paling disesali rakyat dan tanah Belanda adalah kebijakan Edukasi. Demi mendapatkan apa yang hilang, yaitu keadilan dan tanggung jawab moral, Belanda justru kehilangan rakyat dan tanah jajahannya. Karena kebijakan politik etis di bidang pendidikan itulah yang telah mendorong lahirnya orang-orang pribumi dengan otak yang encer dan hati yang ingin merdeka. Tan Malaka adalah salah satunya.

Para priyayi atau kalangan istana yang tidak pernah merasa kehilangan kemerdekaan; umumnya merasa semua masih sama, senikmat sebelum kedatangan bangsa penjajah, bahkan tambah nikmat. Mereka tetap dapat menikmati kekenyangan dari makanan. Tetap dapat menikmati kebanggaan dari kekuasaan.

Oleh karena itu, meskipun sebelum adanya politik etis mereka telah mendapatkan fasilitas pendidikan, tetap saja tidak lahir gagasan kemerdekaan dari pikiran mereka. Justru mereka berkolusi dengan penjajah dari Belanda untuk memelihara kekuasaan mereka. Tetap menimpakan penderitaan berganda bagi rakyat dan tanahnya.

Tan Malaka tidak demikian. Ia lahir dan dibesarkan di tanah yang berkonsep Nagari. Konsep tersebut sama seperti konsep Polis di tanah Yunani. Prinsip egaliter, demokrasi, dan bermusyawarah telah menjadi lazim di tanahnya. Apalagi ia Datuk dari kaumnya. Kaum yang dipersatukan oleh garis matrilineal. Pendeknya, semua kaumnya tersebut diikat oleh tali persaudaraan.

Dengan kenyataan yang demikian, tidak heran bila apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan kaumnya, juga dialami olehnya. Ini adalah modal dasar Tan Malaka untuk memahami apa yang sedang dirasakan oleh rakyat Nusantara. Hatinya tidak bisa berdusta bahwa rakyat dan tanahnya sedang menderita.

Merasakan kehilangan. Politik etis yang telah dinikmati Tan Malaka dalam bidang pendidikan, itulah yang membuatnya semakin sadar, ada yang telah hilang dari rakyat dan tanahnya. Apalagi ketika ia menempuh studi di negeri kincir angin tersebut.

Ada beberapa kesadaran yang tentu timbul. Kesadaran pertama, ternyata yang telah menjajah negerinya yang besar ini begitu lama adalah negeri yang tergolong kecil dan lemah di Eropa; Kesadaran kedua, tindakan Belanda dan Eropa di tanah jajahannya tidaklah diterima seluruh rakyatnya. Kesadaran ketiga, dunia sedang bergerak menuju tata dunia yang baru–terutama ketika sosialisme Marx dengan konsep pertentangan kelasnya hadir menjadi penantang serius kapitalisme.

Terutama ketika gerakkan sosialisme yang di latar belakangi pemikiran Marx itu makin memuncak ketika kaum proletar berhasil mengalahkan kaum borjuis di Rusia; kemudian mendirikan Uni Soviet–salah satu dari dua raksasa di dunia saat itu.

Kesadaran dan kehilangan itu telah membuat Tan Malaka tergerak. Mendapatkan kembali apa yang telah hilang dari rakyat dan tanahnya. Pepatah mengatakan “ada banyak jalan menuju Roma”. Pepatah itu tepat, sebab pada saat itu ada banyak lawan kapitalisme di berbagai belahan dunia: di Eropa lawan kapitalisme adalah sosialisme; di Timur Tengah adalah Islamisme dan; di Asia adalah Ghandisme.

Tan Malaka yang telah lama di Eropa–melihat kesuksesan sosialisme, melihat keefektifan dan keefesienannya. Dari seluruh jalan yang ada untuk mencapai kemerdekaan, akhirnya Tan Malaka memilih sosialisme sebagai jalannya. Dan itu tidak berarti ia mengingkari jalan lainnya. Sebab seluruh jalan tersebut dapat bertemu di sebuah jembatan yang bernama kemerdekaan.

Pada akhirnya, pengembaraan Tan Malaka dari negara ke negara, dari daerah ke daerah. Lewat rangkaian karya tulis, lewat rangkaian aksi, perjuangan untuk mendapatkan apa yang hilang; kemerdekaan–berhasil ia dapatkan. Meskipun kemerdekaan itu memang tidaklah seperti yang ia cita-citakan.

Merdeka seratus persen. Kemerdekaan yang dicapai dari proses revolusi rakyat seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan Rusia. Tapi tetap saja, dari manapun asal-usul kemerdekaan itu, tetap saja itu adalah kemerdekaan. Pendek kata, Tan Malaka telah berhasil mendapatkan apa yang hilang dalam kesadarannya.

Tapi nasib Tan Malaka tidak berbeda dengan Belanda ataupun manusia lainnya. Demi mendapatkan apa yang hilang–ia pun juga akan kehilangan. Kehilangan pertama, Tan Malaka harus kehilangan nikmatnya berkumpul dengan keluarga, dengan tanah dan kaumnya; tempat di mana ia diangkat menjadi datuk (baca: pemimpin) di sana.

Kehilangan kedua, kehilangan nikmatnya usia muda. Usia mudanya semata-mata dihabiskan untuk belajar dan berjuang dan di penjara dari penjara ke penjara. Demi mendapatkan kemerdekaan untuk rakyat dan tanah bangsanya.

Kehilangan ketiga, kehilangan nikmatnya madu yang mengalir dari mahligai pernikahan. Meski diakuinya, ia pernah mengalami tiga kali jatuh cinta. Masing-masing di Indonesia, Belanda, dan Filipina, tapi ia tidak pernah menikah–seumur hidupnya membujang, menjadi pejuang yang selalu kesepian.

Kehilangan keempat, sekaligus yang terakhir, kehilangan nikmatnya mati secara wajar. Pada bulan Februari 1949, Tan Malaka dan pengikutnya ditangkap dan ditembak mati oleh bagian dari rakyat, yang kemerdekaannya telah ia perjuangkan seumur hidupnya. Tidak ada seorang manusia pun yang tahu, siapa pengeksekusi Tan Malaka. Tidak ada yang tahu di manakah makamnya. Kecuali, yang memberi perintah dan menerima perintah.

Jika Tan Malaka bisa bicara dari liang kubur yang tak diketahui dimana nisannya, barangkali ia akan berkata “memang, memang beginilah hukum besi kehidupan. Aku sudah tahu, untuk mendapatkan apa yang hilang, aku juga akan kehilangan. Aku tidak menyesal kehilangan segalanya, belenggu budakku, berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.”

“Sepertiku, jika kau berjuang untuk mendapatkan apa yang sedang hilang dari rakyat dan tanahmu sekarang, maka ingatlah kau pun juga akan begitu, kehilangan. Sebelum itu terjadi, jika kau mau, lakukanlah–belum terlambat, melarikan diri dari perjuanganmu menemukan. Kau masih bisa berbalik arah. Tapi kau tidak akan sepertiku, merdeka seratus persen. Kau akan tetap berstatus terjajah, budak selamanya”

Tulisan ini sudah diterbitkan di Qureta.com

Leave a Reply